Selamat Jalan, Kecewa.

Jangan memberikan sedikitpun ruang bagi kekecewaan untuk menempati hatimu. Sekecil apapun celah yang didapatkan, dia akan tetap tumbuh karena memiliki kemampuan yang luar biasa untuk membiakkan diri, bahkan mungkin bisa menjadi inang bagi perasaan lain atau mengkambinghitamkan peristiwa yang telah terjadi. Dia memang harus diperlakukan dengan baik, tetapi tidak selalu dengan mempersilahkannya masuk. Cukup sediakan tempat duduk untuk sejenak berteduh. Mungkin kamu bisa mewakilkan rasa syukur untuk sekedar menemaninya menikmati secangkir kopi di beranda hati, kemudian membiarkannya pergi untuk belajar (lagi) memperbaiki diri. Mintalah kepada kebahagiaan untuk mengantarkannya sampai di tepi jalan. Lalu, suruhlah seseorang menunggunya kembali –tetapi jangan harapan, mereka sama-sama melankolis. Mungkin qana’ah lebih tepat.

Seluruh penghuni rumah (hati) ini yakin, kembalinya nanti bukan lagi sebagai rasa kecewa yang sama, tetapi sebagai syukur yang akan memberikan banyak sekali pelajaran berharga.

Selamat jalan, kecewa. Terima kasih sudah singgah!

Iklan

Akhir Semester Mode On!

Sepuluh hari!
Rasanya kayak ada yang kurang selama sepuluh hari ini vakum sejenak dari kegiatan blog. Begitu kembali ke Bandung, langsung hectic disambut oleh tugas-tugas besar di akhir semester. Sebenarnya bisa aja curi-curi waktu di tengah-tengah kegiatan kampus dan nugas, tapi rasanya kok nggak leluasa, kayak ada beban. Setiap kali buka blog, sekedar cek pemberitahuan, balas komentar, atau follow back teman-teman baru. Padahal di timeline sudah banyak antrian tulisan keren dari teman-teman yang menunggu untuk dibaca. Tapi realitanya, sekedar baca judul dan klik tombol like karena tugas-tugas yang belum selesai. Begitu ditinggal sebentar rasanya mereka kayak udah pada teriak-teriak minta cepet-cepet dikerjain. Kan jadi nggak tenang bawaannya 😁
Akhir semester be like ‘nggak usah mikir yang lain, tugas numpuk buruan selesaiin!’.

Baiklah~

Mewujudkan Hati Rahmatanlil’alaamin

brunch

Islam adalah rahmatanlil’alamin, sehingga setiap ummatnya diwajibkan memiliki rasa kasih sayang bukan hanya kepada manusia, tetapi juga alam semesta, bahkan menyayangi orang yang berbeda akidah untuk menyampaikan indahnya islam. Perkara hidayah dalah urusan Allah, tetapi perkara membantu mengenalkan islam adalah tugas setiap mukmin.

7 langkah mewujudkan hati rahmatanlil’alamin: Lanjutkan membaca Mewujudkan Hati Rahmatanlil’alaamin

Selamat Pagi, Januari

Penghujung tahun memang selalu berhasil dijadikan tempat merenung. Merenungkan berbagai peristiwa yang terencana maupun tak terduga, yang menciptakan rasa suka hingga menorehkan duka, bahkan mengubah prasangka yang awalnya ‘mungkin nggak ya?’ berganti menjadi ‘oh ternyata bisa juga’.

Menjalani hari-hari terakhir di bulan desember, rasanya seperti sedang membangun seindah-indahnya kenangan dengan seseorang. Kemudian, di detik-detik menuju pergantiannya, seolah-olah terdengar dia berkata,

“Selamat tinggal, aku akan pergi dan takkan kembali.”

Lalu, keesokan hari berjumpa dengan sosok baru yang seolah menjadi pengganti.

Yah, sebenarnya tahun akan terus kembali, namun dengan rasa yang tak sama lagi. Semoga kita bisa berteman baik dengannya, mulai hari ini hingga penghujung nanti.

“Selamat pagi, Januari…”

Resolusi Tahun 2019?

1 jam 17 menit (waktu Indonesia bagian barat) menuju 2019.

Yang pasti, sudah ada beberapa planning yang ingin diwujudkan di tahun 2019. Tetapi yang paling diharapkan, semoga Allah segera menjadikan saya –dan siapapun yang sudah memiliki niat tulus, untuk menjadi tamu di Baitul Atiq-Nya. Menjejakkan kaki, lantas bersimpuh setulus-tulusnya di tanahNya yang suci.

Membayangkan berada disana saja sudah bisa membuncahkan perasaan, apalagi benar-benar menginjakkan kaki di atas tanah suciNya. Saya yakin, mengunjungi rumahNya bukanlah hal yang mustahil. Siapapun yang telah Dia pilih menjadi tamuNya, pasti akan segera sampai disana.

Resolusi yang sama setiap tahunnya, tetapi kali ini dengan keyakinan yang berbeda. Bismillah, semoga segera Allah dekatkan dan antarkan menuju ‘waktu‘ pilihanNya. Aamiin…

للهم صل على محمد وعلى آل محمد

Semoga teman-teman disinipun dapat segera mewujudkannya. Mari saling mendoakan dan mengaamiinkan…

(Sumber gambar: instagram @dianpelangi)

Sudut Pandang

Processed with VSCO with g3 preset
Kupu-kupu yang membutuhkan bunga, atau bunga yang membutuhkan kupu-kupu?

Terkadang (sebenarnya bukan lagi terkadang, tetapi seringnya) seringnya kita melihat segala peristiwa hanya dari sudut pandang kita saja. Kita terlalu sering merasa tanpa mempedulikan dirasa, selalu memikirkan segala hal sampai membuat kita tak tau bahwa kita sedang dipikirkan, terus mengejar tanpa mengetahui sedang dikejar, terlalu fokus melihat hingga tak sempat merasa sedang dilihat, terlalu sibuk mencintai hingga tak menyadari bahwa kita sedang dicintai (ehm). Begitu seterusnya, berulang-ulang, karena kita cenderung melihat segala sesuatu hanya dari satu sudut, yaitu sudut pandang kita.

Satu sudut yang dapat menimbulkan berbagai fenomena ketika diaplikasikan dalam diri manusia, misalnya ketika kita sedang membenci tanpa sadar sedang dibenci, ketika kita fokus melihat kesalahan orang lain tanpa sempat merasa bahwa kitapun sedang dilihat kesalahannya, apalagi ketika kita terus mengejar dunia padahal dalam waktu bersamaan kita juga sedang dikejar kematian. Ini hanya permisalan saja. Tetapi, ya memang selalu seperti itu, karena setiap hal yang kita lakukan merupakan kata kerja yang terbingkai dalam sebuah sudut pandang. Lanjutkan membaca Sudut Pandang

Kenapa Menulis?

IMG_20171220_083254_735.jpg

Kalau ditanya kenapa, sebenarnya bingung juga mau dijawab apa. Tapi ada satu alasan dibalik lahirnya tulisan-tulisan di blog ini, yaitu sharing. Saya sepenuhnya menyadari bahwa selama 24 tahun ini saya belum terlalu banyak memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar sebagaimana yang Rasulullah telah ajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289). Selengkapnya di https://muslimah.or.id/6435-pribadi-yang-bermanfaat.html

Disitulah poin utamanya. Jadi, saya berusaha mencari cara bagaimana menjadi orang yang bermanfaat, setidaknya untuk teman-teman saya disini, salah satunya dengan sharing. Kenapa sharing? Sebenarnya simpel, sih. Pertama, karena saya tau diri bahwa saya bukanlah manusia yang benar-benar baik. Jadi, saya memutuskan untuk menuangkan pengalaman-pengalaman saya dalam menjalani kehidupan (weeshhh 😀 ) dalam sebuah tulisan, semata-mata sebagai pengingat diri, lalu menjadikan halaman ini sebagai tempat berbagi –yang tentunya sudah dipertimbangkan batas-batasnya agar tidak terkesan terlalu vulgar. Lanjutkan membaca Kenapa Menulis?