Seikat Kebaikan

Seikat Kebaikan

Tak ada salahnya jika kita mengingat setidaknya satu saja kebaikan yang pernah orang lain lakukan siapapun orang itu. Sehingga ketika dia melakukan suatu kesalahan, kita bisa menjadikan kebaikannya sebagai penawar, agar tidak mudah melontarkan kebencian hanya karena satu keluputan.

Setitik nila katanya bisa merusak susu sebelanga. Namun nyatanya, setitik tinta tak lantas menghitamkan selembar kertas.

Iklan

74

Berpuluh tahun lalu, jumlah yang kuingat adalah 54. Namun kini angka depan telah berubah, menegaskan bahwa dia semakin beruban, sedangkan aku kian melamban.

Selamat memperingati kebebasan, meski pada kenyataannya tak benar-benar membebaskan.

Mari menua bersama!

🇮🇩

Kewajiban Lebih Banyak dari Waktu yang Disediakan

Dalam islam, kita diajarkan untuk tidak memandang kewajiban sebagai sebuah beban, melainkan suatu amanah yang harus ditunaikan, tanggung jawab yang harus diselesaikan. Kewajiban merupakan sesuatu yang ditetapkan oleh Allah yang pada akhirnya akan mendatangkan manfaat bagi diri kita sendiri. Sebagai orang beriman, kita harus memandang kewajiban sebagai sesuatu yang positif, diantaranya:
1. Peluang besar untuk mendekatkan diri kepada Allah
2. Peluang untuk meningkatkan kualitas diri
3. Tangga untuk memperoleh cinta Allah, yanh dengan cinta itu manusia akan terjaga dirinya
4. Menjauhkan diri dari tarikan dunia dan lebih fokus pada sikap rabbani

Kadar kewajibannya:
1. Kewajiban zatiyah, terhadap diri sendiri
2. Kewajiban kepada Allah dan Rasul
3. Kewajiban kepada sesama manusia

Posisi kita dalam kewajiban
1. Zatiyah: mampu menshalihkan diri sendiri
2. Allah dan Rasul: mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulullah dengan memenuhi kewajiban-kewajiban
3. Sesama manusia: menempatkan diri dalam masyarakat untuk menjaga keharmonisan

“Banyak peran namun sedikit kewajiban yang tertunaikan merupakan suatu kebangkrutan. Banyak kewajiban namun sedikit peran merupakan kemandulan.”

(Diskusi dalam halaqah pagi ini…)

Hatimu untuk Siapa?

wp-1564114436956.jpg

Mencintai itu pada hakikatnya bukanlah belajar untuk memiliki, namun belajar untuk ikhlas. Ikhlas menerimanya, ikhlas terhadap kebaikan dan keburukannya, ikhlas atas segala kelebihan maupun kekurangannya, hingga ikhlas ketika tiba masa untuk melepaskannya dari genggaman.

Ketahuilah, bahwa apa yang kau cinta sejatinya bukanlah milikmu. Tidak akan pernah menjadi milikmu. Maka ada baiknya melepaskan diri dari rasa memiliki. Sangat sulit, memang. Karena pada rasa cinta –bahkan benci, manusia sudah sangat terbiasa memasukkannya sampai ke dalam hati.

Pada kenyataannya, menjadi wajar dan sederhana memang tidak mudah. Terhadap apa yang dicinta, ada kalanya muncul keinginan untuk memberikan segalanya. Jika rasa cinta kepada manusia saja demikian mendalam, lantas bagaimana dengan rasa cinta kepadaNya? Tidakkah kamu sadari, itulah tanda bahwa hati mulai berpaling dariNya?

Menyukai sesuatu itu tidak salah. Yang salah adalah ketika rasa memiliki mulai singgah di hati. Padahal hati yang kau gunakan untuk mencintai itu pun sejatinya bukanlah milikmu. Maka, sederhana dan sewajarnya saja. Tak perlu berlebihan, karena yang tercinta, yang terkasih, yang teramat disayang, yang disanjung dan dikagumi, pasti akan ada saatnya untuk direlakan. Semua hanyalah titipan.

Jika mencintainya, maka cintailah dia dengan hati yang baik. Hati yang tidak sekedar memberikan kasih sayang, tetapi dapat menghadirkan keikhlasan. Bukan hanya ikhlas untuk bersamanya, namun juga ikhlas ketika harus kehilangannya.

Karena Allah Mencintaimu

Processed with VSCO with  preset

Kamu tidak akan pernah tau bagaimana cara Allah menentukan segala ketetapan, bisa jadi melalui ujian berupa kebahagiaan, mungkin juga dalam bentuk kesulitan. Namun tanpa sempat memaknainya lebih dalam, seringkali kamu terburu menilai peristiwa sedangkal apa yang terlintas di dalam pikiran. Memisahkan mana yang sefrekuensi dengan persepsi, kemudian membuang dan melupakan yang tidak sejalan dengan pandangan. Padahal, apa yang benar menurutmu tak lantas mendatangkan kebaikan. Bisa jadi harapmu semu, tak sejalan dengan ketetapan yang berlaku. Tetapi yakinlah, meski seringkali tak terduga, segala ketetapan yang terjadi merupakan sebuah tanda bahwa Allah cinta.

Namun, sungguh ironi kenyataan yang terjadi. Di saat Allah selalu menunjukkan kasihNya, banyak sekali hamba yang lupa mengasihiNya. Allah begitu Penyayang, namun tidak semua manusia mau menyayangiNya. Dia adalah Maha Cinta, meskipun banyak sekali jiwa yang cintanya tak tertuju padaNya. Memang benar, sesungguhnya Allah tidak memerlukan itu semua karena Dia telah memiliki segalanya. Seluruh semesta tak luput dari genggamanNya. Tetapi sebagai jiwa-jiwa yang menerima banyak karunia, tak inginkah kamu membalas cintaNya yang tiada jeda?

Sebenarnya, kamu begitu tau betapa besar kasih sayangNya, namun cintamu jauh lebih besar pada dunia. Padahal fananya dunia ini tak dapat dibantah lagi. Lihatlah sudah berapa kali Allah kirimkan bukti melalui ruh-ruh yang Dia minta untuk kembali? Namun seolah tak peduli, pengingat yang paling nyata itu dengan mudah kau abaikan lagi. Lalu kamu kembali bercengkrama dengan keindahan dunia yang tampak lebih nyata dari akhirat yang tak terlihat di pelupuk mata.

Sesungguhnya Allah hanya ingin memberimu kesempatan untuk mentafakuri setiap peristiwa yang terjadi. Terhadap pilu yang datang, Dia hanya ingin menunjukkan adanya kebahagiaan. Pada kehilangan yang teramat menyesakkan, Dia ingin menjelaskan bagaimana makna keikhlasan. Ketika yang terkasih pergi, Dia hanya ingin mengajarkan bagaimana kerelaan harus dimaknai. Lantas pada kesulitan yang kamu hadapi, Dia begitu ingin kamu tau bahwa bersamaNya, segalanya akan terasa mudah.

Begitulah cara Allah mencintaimu, mengan memberikan ujian di setiap waktu. Entah berupa bahagia atau sendu, namun semuanya ditujukan demi memperkuat akidahmu. Maka, jangan pernah menjauh dari Allah. Sungguh tidak adil bagiNya yang selalu ada, sedangkan kamu seringkali lupa. Dunia ini bukanlah alasan untuk mengabaikanNya. Dunia ini, semata-mata Allah ciptakan sebagai ladang amal kebaikan yang akan mengantarkanmu menuju keabadian. Mengejarnya jangan sampai membuatmu lupa bahwa daun berlafazkan namamu pun sedang menguning, menunggu kering untuk digugurkan dari ranting.

Wallahua’lam.

 

Self reminder!!!