[Review] Aku Memilih Pergi

wp-1567267355452.jpg
Aku Memilih Pergi
Judul Aku Memilih Pergi
Author Tereza Fahlevi
Tahun Terbit Desember, 2018
Halaman 146
ISBN 978-602-6358-71-4
Publisher Wahyu Qolbu

“Melepasmu adalah keputusan paling dewasa yang aku ambil, di mana aku butuh berpikir sekeras-kerasnya, butuh tenaga sebesar-besarnya, dan terpaksa harus sakit sesakit-sakitnya. Tapi jangan kau kira aku akan menangisi kepergianmu, tidak, aku tidak punya waktu untuk itu.

Kau bisa jadi prioritasku, tapi masih ada yang jauh lebih penting daripada sekadar mengutamakanmu. Kita sudah besar, hubungan yang sehat tidak seharusnya berjalan seperti itu. Saling pendam, saling tikam, dan saling diam. Aku benci disakiti, dan aku benci bila nanti aku yang harus menyakiti. Jadi akhiri saja, maaf bila aku harus mundur. Jangan menagih janjiku, karena itu hanya berlaku bila kita saling setia, bukan saat cintamu tak lagi ada. Maaf, aku memilih pergi.”

Sebuah perjalanan merelakan. Sebuah usaha melupakan. Sebuah perjuangan menemukan.

Buku ini mengingatkan kembali, bahwasannya cinta memang tidak selalu memiliki. Bahwa cinta seharusnya dibangun dengan keikhlasan hati, karena apa yang diharapkan tidak selalu berakhir dengan kebahagiaan, namun sangat mungkin berujung perpisahan. Ada yang terpaksa harus meninggalkan, ada yang bertekad untuk lari, dan ada yang memilih pergi.

Namun nyatanya, pergi tidak melulu tentang melarikan diri karena pergi bisa menjadi salah satu jalan untuk menyelamatkan hati. Pergi dapat dijadikan sebagai waktu untuk merenungi apakah dia pantas untuk diperjuangkan atau memang sudah seharusnya direlakan. Pergi tidak selalu salah. Pergi, bisa menjadi pilihan terbaik.

wp-1567267380784.jpg
Hlm. 68

Usah risau pada perasaan yang ada di dalam hati. Pada akhirnya, perasaan itu pasti akan hilang sendiri. Tak perlu meratapi kenyataan yang terjadi, karena pada waktunya, cinta sejati akan menemukanmu suatu saat nanti. Pasti.

Pada setiap perpisahan, sebenarnya yang paling dibutuhkan hanyalah kesabaran untuk menempuh perjalanan waktu hingga sampai pada titik penerimaan. Tak perlu sibuk mencari pelarian, karena hal itu hanya akan melahirkan sakit pada hati yang baru. Dalam kasus ini, kedewasaan seseorang sedang dipertaruhkan, dengan terus bersabar atau justru semakin merasa gusar.

Kumpulan prosa-prosa puitis dalam buku ini benar-benar mendewasakan. Bahasanya memang puitis, namun pesan yang terkandung dalam setiap bait dapat tersampaikan dengan baik. Ketika membaca lembar demi lembar, tak jarang membuat pembacanya berpikir “Bener juga, sih…” atau “Oh, iya ya…” karena rangkaian kalimatnya dapat membuka pikiran secara perlahan. Sedikit demi sedikit mengantarkan kita pada sisi lain dari sebuah perpisahan, yaitu keikhasan.

Rasanya seperti sedang diingatkan bahwa cinta tak harus selalu dipertahankan karena ia pun dapat menjadi bilah yang mematikan. Jadi, renungkan kembali. Jangan sekali-kali mencoba membunuh diri.

Iklan

2 tanggapan untuk “[Review] Aku Memilih Pergi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s