Terkadang, Yang Pertama Kali Terlintas Adalah Keburukan

latifadelina.wordpress.com

Ada seorang teman yang pernah berkisah mengenai sebuah prasangka yang sempat singgah di dalam hatinya. Tuturnya, kala itu ia sedang menempuh suatu perjalanan di sebuah kota. Di tengah padatnya lalu lintas tatkala semua orang saling memperebutkan celah-celah jalan raya, ia lebih memilih untuk bersabar menunggu, meski di dalam hati sebenarnya ia sudah tak tahan lagi melihat bagaimana orang-orang saling mendahului disertai bunyi klakson yang memekakan telinga kanan dan kiri. Terlebih lagi, matahari telah menaikkan ketinggian dan derajat keterikkannya. Begitu menyengat, hingga hati pun rasanya turut memanas hebat.

Di saat yang bersamaan ketika perutnya mulai merintih kelaparan, ia mendengar seorang pedagang berjalan sembari meneriakkan jajakannya. Sempat dia berpikir untuk istirahat sejenak dan memenuhi hak tubuhnya, namun diurungkan. Dalam hatinya berkata, “Kalau makan sembarangan kayak gitu, sehat nggak ya? Gimana kalau banyak micinnya? Belum terjamin juga kebersihannya. Ya udah deh, sabar aja, nanti kalau udah sampai baru makan. In syaa Allah”.

Sesaat setelahnya, ia pun meneruskan perjalanan. Namun belum begitu jauh perjalanan yang ditempuh, ia kembali menghentikan laju. Ada seorang teman yang harus dihubungi sebelum tibanya di tempat tujuan. “Innalillahi…”, ujarnya lirih setelah ponsel yang ia cari tak berada di saku, tempatnya biasa menyimpan. Ia ingat betul posisi handphone yang selalu ditaruhnya di sana. Mencoba lebih tenang, ia pun membuka ransel dan mencarinya di sana. Namun tetap tidak ditemukan. “Apa mungkin jatuh…?”, pikirnya setelah mengingat bahwa ia sempat mengeluarkan handphone di tengah macetnya jalan raya yang ia lalui tadi.

Ia pun segera kembali. Kali ini lebih memperlambat laju sambil menyusuri jalan di jalur kiri untuk mencari. Beberapa saat kemudian, ada seorang bapak yang bertanya kepadanya, “Lagi cari apa, Neng?”. Ia pun menjelaskan benda apa yang hilang dan tengah dicarinnya. Lalu bapak itu menyerahkan sebuah handphone yang ternyata miliknya. Alhamdulillah, benda kecil itu masih menjadi rezekinya. Tadinya, bapak yang menemukan itu berniat untuk menghubungi salah satu nomor di dalam ponsel, agar bisa diteruskan kepada pemiliknya. Tapi qodarullah, mereka dipertemukan secara langsung di tempat itu.

Ketika handak menyampaikan rasa terima kasihnya, ia baru menyadari bahwa penemu ponsel itu adalah pedagang yang tadi sempat ia curigai. Yang hampir ia beli dagangannya namun diurungkan karena prasangka yang terlintas dalam hatinya. Astagfirullahal’adzim, betapa rasa bersalah menghampirinya saat itu juga karena prasangka buruk itu ia tujukan kepada seseorang yang ternyata menolongnya di masa depan.

Ia menceritakan kisah ini dengan mata berkaca-kaca karena besarnya perasaan bersalah. MaasyaaAllah, bahkan sebuah prasangka seperti itu sudah sangat mengganggunya hingga sulit melepaskan diri dari rasa bersalah meskipun sudah meminta maaf. Sedangkan kita yang masih sering berpikiran buruk terhadap orang lain, atau bahkan sengaja membicarakan keburukan orang lain, terkadang masih tidak menyadari, atau nggak tau diri. Innalillahi…

Jadi, terhadap apapun yang orang lain lakukan, sebaiknya jangan mudah suudzon karena kita tidak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.

6 pemikiran pada “Terkadang, Yang Pertama Kali Terlintas Adalah Keburukan

  1. Mba Ifaaa, terima kasih berbagi kisah sahabatnya. Semoga kita senantiasa bersangka baik pada apapun dan siapapun di mana pun yaa. Sebab kita tidak tahu yang sesungguhnya terjadi.
    Btw, taman bunga mataharinya sweet banget. ^_^

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s