Mencari Kesalahan Diri Tak Semudah Menemukan Kesalahan Seseorang

Processed with VSCO with hb1 preset

Apabila Allah memberikan anugerah kepada manusia berupa kemampuan untuk mengetahui setiap lintasan hati dan pikiran seseorang, lalu akan ada berapa banyak aib yang terungkap? Seberapa besar timbunan dosa yang akan terlihat? Betapa mengejutkannya setiap keburukan yang kan terkuak? Sungguh mengerikan. Maka, cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui segalanya, sebab Allah Maha Memberikan ampunan seburuk apapun Dia menyaksikan dosa yang diperbuat oleh seseorang, asalkan ia mau menempuh ikhtiar kemuliaan berupa taubat.

Sebagaimana yang kita ketahui, manusia memiliki kehinaan akibat segala bentuk maksiat yang dilakukan. Namun, bukanlah urusan kita untuk mengetahui siapa saja yang telah melakukan kekhilafan. Bukan wewenang kita untuk menjatuhkan keputusan tentang berdosa atau tidaknya seseorang akibat perbuatan yang dilakukan. Sebab, kita pun tidak mengetahui bagaimana proses yang kemudian ditempuh olehnya hingga memilih jalan taubat yang telah Allah bukakan pintu baginya, lalu kembali menjadikannya mulia.

Namun, sekalipun Allah telah mengampuninya, belum tentu semua orang pun turut memaafkan dan melupakan kesalahan yang pernah dilakukan. Seringnya, pada sepasang mata manusia selalu saja tampak adanya cela dalam diri orang-orang yang dilihatnya. Itulah sebab mengapa cukup Allah Yang Maha Mengetahui segala kehinaan yang dilakukan oleh seseorang, karena Allah pun Maha Memaafkan; Maha Mengampuni; Maha Menutupi.

Bahkan terhadap dosa-dosa yang telah diperbuat oleh seseorang, sekalipun jalan taubat belumlah terbuka untuknya, namun Allah masih menunjukkan kasih sayang dengan menutup segala aibnya. Maasyaa Allah. Lain halnya dengan manusia yang justru seringkali berlomba untuk membuka aib satu sama lain. Ketika aib saudaranya tak lagi cukup diungkap dari mulut ke mulut, lantas media sosial pun menjadi jalan selanjutnya.

Sesungguhnya Allah menitipkan segala bentuk karunia dengan tujuan untuk menyemai kebaikan. Maka, alangkah baiknya jika mulut yang telah Allah berikan kemudahan untuk berbicara itu digunakan untuk mengucapkan kalimat yang baik, melantunkan dzikir, memperbanyak istighfar. Mata yang telah Allah anugerahkan kemampuan melihat itu tidak digunakan untuk menelusuri kesalahan orang, tidak dipakai untuk memandang keburukan saudaranya, namun untuk melihat keluputan yang ada pada diri sendiri. Pada diri ini, apakah kebaikan atau justru keburukan yang lebih mendominasi? Seperti ketika melakukan perbuatan yang disangka mulia atau saat mengerjakan ibadah yang dikira telah sempurna, mampukah menemukan adanya cela pada amalnya sendiri sebagaimana ketika menguliti kesalahan orang lain?

[Tulisan ini terinspirasi dari nasihat seorang Guru]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s