Seberapa Jauh Jarak yang Telah Kita Tempuh?

Banyak yang bilang, bahwa mengulang-ulang doa bagaikan mengayuh sepeda. Lingkar demi lingkar roda berputar, maka kita kian mendekat ke tempat tujuan. Meski terkadang lelah, namun nyatanya kita tak pernah menyerah. Entah sudah berapa kali doa itu terucap dengan segenap harap, kita pun pasti sudah tak ingat.

Sesekali, kita mungkin berhenti untuk sejenak menepi. Mengulang lagi keinginan, harap-harap cemas akankah sampai ke tempat tujuan. Tanpa sadar, satu tahun belakangan kita terus menyelipkan pinta yang sama, untuk dipertemukan dengan waktu-waktu mulia yang dirindukan mukmin di seluruh dunia. Entah di penghujung doa seusai shalat atau bahkan di sela pekerjaan yang padat, ketika menyadari bahwa harinya kian mendekat, tanpa sadar doa yang sama pun kembali terucap.

Kalaulah kita menengok lagi ke belakang, pasti kita pun akan terkejut melihat betapa jauh jarak yang telah ditempuh. Satu tahun, dengan doa yang sama, dengan pinta serupa. Meskipun pada kenyataannya kali ini sedikit berbeda dari waktu-waktu kemarin, meskipun malam-malam indahnya akan terasa lebih sunyi, namun bukan berarti hati kita ikut terisolasi. Justru inilah masa yang indah untuk membuktikan jika kita tak mudah terkekang oleh keadaan, ibadah kita akan terus berjalan -bahkan lebih mendalam. Insyaa Allah…

Seseorang pernah mengingatkan, bahwa sejak adzan maghrib berkumandang, sejak saat itulah segalanya tak lagi sama. Maka, jika ruku’ dan sujud kita masih sama; qiyam kita tak ada bedanya; shiyam dan shaum kita begitu-begitu saja; dzikir dan istighfar secukupnya; tilawah dan tadabbur sekadarnya, lalu bagaimana bisa doa agar kembali dipertemukan dengannya selalu mengudara? Padahal seandainya kita memang benar-benar sedang mengayuh sepeda, tak terbayang sudah seberapa panjang kayuhan itu melintang. Akan begitu lucu ketika gerbang yang kita tuju sudah terlihat, namun semangat kita justru tersendat.

Kita sendiri yang selalu meminta untuk dipertemukan dengan bulan penuh kerinduan, kita juga yang memohon agar disampaikan pada malam-malam penuh ampunan, jadi sudah semestinya kita pun mempertanggungjawabkan segala harapan yang telah dikabulkan. Melakukan kebaikan lillahita’ala, bukan karena yang lainnya. Namun jika kita justru tersandung oleh niat yang keliru, tidak malukah terhadap sebait doa penuh rindu yang sejak saat itu tak henti bertalu?

7 pemikiran pada “Seberapa Jauh Jarak yang Telah Kita Tempuh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s