Bukuku Sayang, Bukuku Malang

(kok rasanya geli sendiri baca judul tulisan ini)

Sejak hijrah ke Bandung pada tahun 2017, sepertinya kali ini adalah mudik pulang kampung terlama, terhitung sejak tanggal 7 Maret 2020. Sebenarnya tidak ada rencana untuk terlalu lama di rumah, mungkin hanya sekitar satu sampai dua minggu, setelah itu berangkat lagi ke Bandung untuk merampungkan beberapa tugas dan urusan yang belum selesai. Tapi qodarullah, belum ada satu minggu, sudah ada himbauan dari pemerintah daerah untuk mengurangi kegiatan di luar rumah, apalagi bepergian antarkota, mengingat semakin meluasnya penyebaran Covid-19. Sebagai masyarakat daerah yang tertib dan warga negara yang baik, saya pun memutuskan untuk menunda keberangkatan sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Dua bulan lebih menghabiskan waktu #dirumahaja, ternyata semakin lama semakin membosankan. Padahal sebelum-sebelumnya, setiap kali pulang juga terbiasa rebahan di rumah, nggak ke mana-mana. Tetapi sekarang, karena menyadari adanya larangan keluar rumah, tiba-tiba rebahan menjadi hal yang sangat menjenuhkan. Bawaannya pengen pergi ke mana-mana. Mungkin ini kali ya, definisi dari candaan orang-orang bahwa peraturan memang dibuat untuk dilanggar. ๐Ÿ˜…

Kenyataannya, terlalu lama di rumah membuat pikiran semakin penat, terlebih ketika saya menyadari bahwa stock buku bacaan mulai menipis, cenderung habis. Kemarin waktu pulang sengaja hanya membawa tiga buku, sedangkan yang lainnya ditinggal di Bandung sebagai cadangan bacaan di sana, apalagi rencananya memang ingin menghabiskan lebih banyak waktu di Bandung sebelum mudik lebaran. Tapi maasyaa Allah… Apa yang bisa kita lakukan selain berencana? ๐Ÿ˜ž

Beberapa hari yang lalu ketika menginjak bulan ke dua #dirumahaja, saya mulai memutar otak untuk mengatasi rasa jenuh yang mulai mengganggu. Karena tidak ada bahan bacaan dan malas mencari pinjaman, akhirnya saya memiliki ide cemerlang untuk membaca ulang beberapa buku yang berjajar di lemari. Dari luar kaca lemari dengan tiga pintu tersebut, fokus saya tertuju pada bilik tengah tempat menyimpan buku-buku fiksi karena saya benar-benar butuh hiburan โ€”apalagi sudah lama nggak baca novel, bilik sebelah kanan auto diabaikan karena isinya buku-buku referensi semasa sekolah dan kuliah, sedangkan bilik kiri sebagian besar dipenuhi buku-buku Bapak.

Setelah beberapa saat menimbang-nimbang, saya tergoda membaca novel Ayat-ayat Cinta 2 yang sebelumnya sudah pernah saya baca dua kali (ndak papa deh, kangen juga sama Mas Fahri. Hihi). Niat saya untuk membaca sudah benar-benar bulat, tetapi sirna sudah ketika saya dikejutkan dengan adanya bercak-bercak berwarna kuning begitu membuka halaman depan buku, persis di belakang sampul. Kenapa bisa begini? Selanjutnya saya buka beberapa halaman secara acak, ternyata kondisinya sama. Seketika saya refleks mengeluarkan satu persatu buku dari bilik lemari bagian tengah sambil memeriksa kondisinya. Ternyata hampir seluruh buku memiliki keadaan yang sama, menguning alias berjamur. Sungguh, sepatah hati ini melihat kondisi buku yang mengenaskan…

Hasil sortir buku-buku di bilik tengah. Sekitar 44 buku terkontaminasi bercak kuning, terutama halaman depan.

Belum puas rasanya sebelum mengeluarkan seluruh isi lemari. Akhirnya, saya periksa buku-buku pelajaran di bilik kanan, ternyata kondisinya baik-baik saja, begitupun dengan buku-buku yang ada di bilik kiri. Jadi pertanyaannya, kenapa hanya buku-buku di bilik tengah saja? Padahal sudah diberi kamper untuk mencegah pertumbuhan jamur. Segera saya meluncur ke G**gle untuk melakukan riset penyebab kerusakan buku tersebut sambil bertanya kepada beberapa teman pembaca. Ternyata, hampir semua teman-teman yang suka membaca buku pernah mengalami hal serupa. Setelah mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, faktor utama penyebab kerusakan buku jelas berada pada kesalahan penyimpanan atau perawatan buku.

Pertama, buku memiliki musuh berupa air dan debu. Sebagai solusi, saya menyimpan buku di lemari khusus โ€”yang memang sengaja dibelikan oleh ibu saya selepas menyelesaikan studi di Jogja, untuk menghindari debu dan air. Tetapi sebagaimana makhluk hidup, buku juga memerlukan sirkulasi udara jika disimpan di tempat tertutup untuk mencegah keadaan ruang yang terlalu lembab dan pertumbuhan jamur. Nah, di sinilah letak kesalahan pertama, yaitu minimnya sirkulasi udara di bilik tengah karena jarang dibuka. Untuk bilik kiri sendiri masih sering dibuka setiap bapak mengambil buku atau ketika ibu saya mengambil tas kondangan yang dititipkan di space paling bawah. Berbeda dengan bilik tengah dan kanan yang hanya dibuka ketika saya berada di rumah, karena orang tua saya nggak suka, nggak tertarik, bahkan nggak peduli dengan buku-buku yang disimpan di bilik tengah maupun di bilik kanan (macem jantung berbilik). Tetapi, kenapa buku-buku pelajaran di bilik kanan (yang juga jarang dibuka) kondisinya bisa baik-baik saja?

Inilah poin ke dua. Isi lemari di bilik sebelah kanan tidak sepenuh isi lemari di bilik tengah, yang artinya masih terdapat space antara buku satu dengan buku lainnya. Meskipun jarang dibuka, namun dengan adanya sedikit jarak tidak akan membuat buku merasa tertekan saking rapatnya penyimpanan. Jadi, kamu juga harus menciptakan sedikit jarak biar nggak tertekan. Maksudnya, masih memungkinkan bagi buku untuk bernafas dengan adanya sedikit jarak. Selain itu, jarak antarbuku juga dapat meminimalisir penyebaran mikroorganisme dari satu buku ke buku yang lain. Jadi, kamper aja nggak cukup, Fah! Di bilik tengah sendiri isinya udah macem ledakan penduduk di negara kita, sampai beberapa buku terpaksa numpang di bilik sebelahnya.

Tidak cukup disimpan dengan rapi, buku pun perlu dibersihkan secara berkala. Kalau dari beberapa sumber, baiknya satu kali dalam dua minggu (padahal kita di rumah berapa bulan sekali). Ketika kita mengeluarkan buku dari tempat penyimpanan โ€”baik rak maupun lemari, besar kemungkinan buku akan terkena debu atau bahkan terkena percikan air. Jika debu tidak dibersihkan terlebih dahulu atau tidak dipastikan kering sebelum masuk tempat penyimpanan, maka kedua media tersebut akan mempercepat kerusakan pada buku. Selain mencegah pertumbuhan mikroorganisme, membersihkan buku secara berkala juga menjadi kegiatan yang memungkinkan tercukupinya sirkulasi udara di dalam ruang penyimpanan.

Last but not least, kita sangat perlu memperhatikan tempat penyimpanan. Sebagian besar menyimpan buku di dalam lemari atau rak yang terbuat dari kayu, termasuk saya. Padahal, kayu sangat rentan terhadap kondisi udara yang lembab, akibatnya suhu ruangan di dalam lemari tidak stabil dan dapat memicu pertumbuhan jamur. Sebagaimana yang kita tau, bahwa kertas terbuat dari kayu, tepatnya selulosa yang merupakan senyawa organik. Meskipun telah melewati proses produksi sedemikian rupa hingga menjadi kertas, namun dia tetap tergolong sebagai limbah organik walaupun tidak mudah membusuk. Nah, bisa kita bayangkan ketika kayu bertemu dengan produk hasil olahannya di tempat yang lembab, maka apa yang akan terjadi? Selesai sudah…

Sebenarnya masih banyak sekali ulasan tentang cara merawat buku yang baik, tetapi di sini hanya saya kutip berdasarkan pengalaman yang sudah cukup membuat kuwalahan. Merasa dzolim karena bisa baca tapi nggak bisa merawatnya…

28 pemikiran pada “Bukuku Sayang, Bukuku Malang

  1. Kalau saya nyimpan buku-buku biasanya di rak, bukan lemari. Relatif lebih aman dari jamur sepertinya, mbak. Tapi tidak aman dari debu, jadi harus sering-sering dibersihkan.

    Selain kamper, coba ditambah dengan dehumidifier/silica gel, mbak. Kalau tidak salah ada silica gel komersial yang banyak dijual di supermarket seperti merek Bagus, dll.

    Kalau di perpus kampus suami ada cara khusus penyimpanan buku yang berat agar bentuknya tidak rusak karena gravitasi mesikpun cara menyimpannya diberdirikan. Pakai karton atau apa gitu..tapi saya agak lupa, hehe.

    Disukai oleh 1 orang

    • Sebaiknya gitu yaa Mba…
      Tapi karena saya jaraang sekali di rumah, jadi dimasukin lemari soalnya kalau di rak nggak ada yang bersihin ๐Ÿ˜ฉ๐Ÿ˜ข

      Terima kasih sarannya yaa, Mba Annisa. Nanti coba saya praktikkan untuk penyimpanan bukunya… ๐Ÿ˜

      Disukai oleh 1 orang

      • Saya juga sebenarnya jarang banget di rumah.๐Ÿ˜… Tapi alhamdulillah krn kadang-kadang ada bibi yg bantu ortu bersih-bersih jd raknya sempat dibersihkan, hehe. Sebagian buku juga dibaca saudara/tamu yg datang ke rumah jd nggak terlalu berdebu cuman kadang penataannya berantakan ๐Ÿ˜‚
        Semoga buku-bukunya aman dan bisa awet yaa mbak ๐Ÿค—

        Disukai oleh 1 orang

      • Wah beruntung sekali Mba ada yang bantu merawat. Kalau ibu saya mikirnya juga sama, udah di lemari insyaa Allah aman. Ternyataaa ๐Ÿ˜
        Pada akhirnya lebih baik sedikit berantakan asal nggak rusak ya Mba ๐Ÿ˜…
        Aamiin. Mumpung agak lama di rumah jadi kesempatan buat merawat Mba hehee

        Suka

      • Hihi pemilik bukunya di *pukpuk* juga deh, pasti sedih lihat buku-buku berubah warna ๐Ÿฅบ

        Sejak kapan ada pawang buku Kak? Setauku adanya pawang hujan ๐Ÿ˜‚

        Disukai oleh 1 orang

      • Sediih sekalii. Lebih pedih dari patah hati ๐Ÿ˜…
        Barangkali kak Ai mau ngasih tips nyimpen buku yang baik dan benaar heheee…

        Sejak saya berteman sama kakak di blog ๐Ÿ˜

        Disukai oleh 1 orang

      • Saya paham, Kak. Pertanda sayang banget sama buku ๐Ÿค—๐Ÿค—

        Saya simpel Kak, buku-buku yg sudah saya baca beberapa disampul terus saya kardusin, kardusnya saya plastikin. Terus dilakban. Nanti (setelah punya rak buku sendiri) baru saya keluarkan lagi, entah bagaimana nasibnya ๐Ÿ˜‚
        Sebetulnya saya disuruh di tata di rak buku di rumah, berhubung saya gak mau dicampur koleksi bukunya, jadi saya pisahkan sendiri. Mohon maaf ga punya tips kece.

        Aiiih sweet sekali Kakak Cantik yg satu ini ๐Ÿ˜„

        Disukai oleh 1 orang

      • Walaupun pada kenyataannya ada yang lebih disayang daripada buku ๐Ÿ˜

        Wahh, sangat simple ya cara nyimpennya. Tapi gimana kalau tiba-tiba pengen baca ulang? Harus bongkar-bongkar packagingnya dulu ๐Ÿ˜„

        Halaaa bisa aja kakak cantik yang sweet ini ๐Ÿ˜…

        Disukai oleh 1 orang

      • Itu pasti Kak, orangtua, sahabat, bahkan seseorang yg spesial dalam hidup Kakak ๐Ÿ˜

        Bongkar kardus, dan itu PR banget, jadi sangat tidak direkomendasikan ๐Ÿ˜…

        Oya Kak, AAC 2 lebih bagus dari AAC 1 atau bagaimana?

        ๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—

        Disukai oleh 1 orang

      • ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ

        Kalau nggak keberatan sih nggak papa kak. Pada dasarnya semua orang punya cara tersendiri, walaupun masih bisa dibilang kurang efektif macam kita ini ๐Ÿ˜‚

        Secara keseluruhan dua-duanya bagus Kak. Saya nggak bisa kalau harus menilai lebih bagus yang mana karena keduanya punya karakter masing-masing. Kalau di aac2 ini menurut saya lebih memainkan peran seorang muslim di kehidupan sosial dan mengangkat isu-isu kemanusiaan. Nggak mengecewakan pokoknya hehee

        Disukai oleh 1 orang

      • Iya, Kak setiap orang punya cara berbeda dlm menjaga buku-buku koleksi. ๐Ÿ˜‚

        Siap, Kak.
        Semoga saya bisa baca juga, tapi mesti ngabisin dulu buku TBR yg masih numpuk ๐Ÿ˜‚

        Stay save Kak, semoga sehat-sehat dan diberikan kenikmatan dalam menjalankan ibadah Ramadhan ๐Ÿฅฐ

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s