Menanti Gilir Bergulir

Segala sesuatu yang tak berada pada tempatnya, tidak mungkin dipaksakan. Segala hal yang bukan menjadi haknya, tidak perlu dipertahankan. Segala perkara yang belum tiba pada waktunya, tidak bisa disegerakan. Semua… berada pada ruangnya, bersama dengan pemiliknya, berjalan pada masanya… Karena masing-masing punya momentum untuk menampakkan dirinya, sebagaimana dengan doa-doa…

Aku, begitupun kamu, sama-sama tau segala rupa keinginan yang saling berjejal di penghujung malam. Berdesak-desakan dengan jutaan lain harap yang tak kalah menggetarkan. Namun di antara permintaan yang bersahut-sahutan, Allah tau mana yang harus didahulukan. Sebab itu, bangunlah sekuat-kuatnya keikhlasan sebagai pondasi atas doa yang digaungkan, tegakkan sekokoh-kokohnya kesabaran sebagai tiang penyangga keinginan, sehingga apabila bukan milik kita yang disegerakan, maka segala doa dan ikhtiar takkan mudah runtuh oleh kecewaan…

Kita berusaha, Allah berkuasa. Kita berikhtiar, Dia-lah yang menentukan. Kita hanya bisa mengawang, sementara ada Pemegang mutlak segala wewenang. Meski terkadang kenyataan tak sejalan dengan angan-angan, namun hati kita harus sepakat dengan ketetapan. Nanti akan ada saatnya doa-doa yang selalu meriuhkan akhir malam terjawab secara bergantian. Oleh karenanya, ikhlas dan sabar menjadi kunci utama sebuah penantian. Tak perlu tergesa… Semua ada masanya, bukan?

Mungkin, masih ada banyak hal menunggu untuk diselesaikan. Mungkin, bakti kepada orang tua masih jauh dari standar tertunaikan. Mungkin, hati masih perlu berdamai dengan masa silam. Mungkin, kapasitas cinta untuk diri sendiri belum tercukupkan. Mungkin, hubungan dengan Tuhan membutuhkan banyak perbaikan. Mungkin, pengendalian terhadap jiwa masih terlalu berantakan. Mungkin, diri pun harus sampai pada tahap penerimaan ーsebelum menerima orang lain sebagai kawan. Dan mungkin… Yah, masih banyak sekali kemungkinan yang takkan usai untuk dijabarkan…

Kita tak pernah tau, akan sepanjang apa sebuah penantian. Maka janganlah terus menerus merisaukan. Sementara, biarkanlah masing-masing berjalan pada tempat yang berjauhan, hingga tiba waktu yang tepat untuk bertatap di persimpangan ーjika memang garis hidupnya saling bertautan.

Sejenak lebarkan jarak saat langkah untuk mendekat masih menemui banyak sekat. Terkadang, saling menjauh memang menjadi sebaik-baik keputusan…

(Gambar dan tulisan nggak nyambung. Nggak papa… Sudah biasa~)

Sebait Puisi Dini Hari

Malam selalu menyimpan rahasianya sendiri. Mengendap-endap di balik mentari demi menunggu sunyi, agar tak perlu mengisahkan pada bumi tentang apa yang berdesak di lubuk hati. Ia lebih memilih ‘tuk cukupi diri dalam tenangnya kasih Ilahi, lewat sebait puisi dini hari yang dilantunkan tinggi-tinggi, melambung hingga ke ‘arasy

Secarik Pesan dari Hujan

Ku dengar, hujan seringkali hadirkan kenangan di atas lingkar-lingkar air yang menggenang.
Teduh rintiknya pun tak jarang mengembalikan kerinduan di masa silam hingga hanyutkan perasaan.
Namun hampir saja terlupa, bersama hujan pula terdengar kelakar petir yang menakutkan dan kilat-kilat cahaya nan menyilaukan.
Maka dari hujan ku coba urai secarik pesan,
bahwa,
tak semua hal ‘kan selalu indah untuk dikenang.


(mendadak random)

Adakalanya

Adakalanya, nama seseorang menjadi hal pertama yang kamu pikirkan ketika menghadapi sebuah permasalahan. Padanya, kamu ingin mengeluhkan berbagai kesulitan, melampiaskan kekesalan, meluapkan kemarahan, mencari keteduhan, menemukan ketenangan, atau sekadar mengajaknya bertukar pikiran. Kamu berharap dialah yang menjadi pendengar. Kamu begitu membutuhkan keberadaannya bukan hanya di saat senang. Tetapi, kamu tidak bisa mendatanginya begitu saja. Tidak boleh, tepatnya. Sekalipun ia berada di tempat yang dekat, namun terasa amat berjarak karena masa berjumpa dengannya belum juga tepat. Belum saatnya untuk saling bicara atau sekadar bertatap muka, sebab bilik-bilik kerinduan masih perlu dijaga.

Jadi selain memperkuat doa, kamu bisa apa?

27 Desember 2019
saat Bandung diguyur hujan deras

Baca selebihnya »

Menempatkan Kepingan yang Hilang

Kamu boleh menatap dan menata masa depan. Namun ingatlah, bahwa kehidupanmu bukan hanya tentang masa yang akan datang. Kamu memiliki orang-orang yang telah membersamaimu dalam perjuangan, dan mungkin ada yang masih bertahan hingga sekarang. Masih tak keberatan menemani perjalanan.

Banyak yang baik, meski beberapa di antaranya ada pula yang tak begitu berkenan. Tidak mengapa, wajar. Yang baik biarlah terkenang. Yang buruk… apa lagi jika tidak dijadikan sebagai pelajaran? Pada dasarnya, memang kedua hal itulah yang memicu seseorang memperbaiki kehidupan. Karena begitulah bagaimana manusia belajar dari orang-orang di sekitar.

Jangan lantas menyingkirkan yang terdahulu ketika kamu bertemu dengan dunia baru. Mungkin bagimu, mereka memang orang-orang dari masa silam, namun tak seharusnya semudah itu dilupakan. Karena bagaimanapun, hidup yang kamu jalani berkesinambungan dari masa lalu hingga masa depan yang merupakan satu keutuhan. Seperti puzzle, kalau kata orang-orang. Kamu akan menemukan kepingan-kepingan yang hilang seiring perjalanan. Ketika kepingan baru ditemukan, maka baiknya tempatkan pada celah yang tepat tanpa harus menyingkirkan bagian yang usang.

Menjalu Masa Lalu

Terkadang, manusia keliru. Yang sebaiknya dilupakan cukuplah kenangan, namun yang dihapus dari ingatan justru seseorang.

Lalu ketika bertemu, bukan sekedar orangnya yang kembali diingat, rentetan kenangan pun seakan turut mencuat.

Mari mempertimbangkan dengan lebih cermat. Jangan pelakunya yang dicutat, perkaranya saja yang dibabat.

Supaya?
Sekalipun ia masih sering berkelebat, kenangan yang membersamainya tak mengguncang terlampau kuat. Sudah berkarat.

 

[malem-malem random]

Menjalankan Sebuah Peran

Pada riuh jalan yang kamu lalui kini, akan tiba saatnya menjadi lengang seolah tak pernah dihuni. Karena nanti, semua pasti ‘kan pergi mencari jalannya sendiri-sendiri. Menemukan cita-cita yang ingin dicapai, fokus pada tujuan yang ingin digapai.

Tak ada yang ‘kan selalu bertahan di sisimu dan terus mendukung hari-harimu. Karena mereka pun harus menjalani peran dalam hidupnya sendiri, sebagaimana kamu. Maka, jangan berharap untuk selalu diperhatikan, pun berusaha keras untuk terus diagungkan. Sebab tujuan hidup ini tak serendah terlihat indah di mata orang-orang, melainkan menjadi yang jujur di hadapan tuhan tanpa diselimuti kemunafikan.

Namun nyatanya, memurnikan laku dalam keseharian memang tak semudah menciptakan sebuah pencitraan. Apapun dilakukan demi menampakkan figur kebaikan. Susah, tak masalah; sakit, tahan sedikit; berat, tetap memaksa kuat; lelah, biarkan saja lah. Asalkan tetap disaksikan dengan penuh decak kekaguman. Asalkan tak terlihat rendah di mata orang-orang.Baca selebihnya »