[Review] Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela

PenulisTetsuko Kuroyanagi
Judul AsliTotto-Chan: A Litle Girl at The Window
Tahun Terbit1982 (Kodansha International, Ltd)
Alih BahasaWidya Kirana
PenerbitPT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun TerbitNovember, 2018 (Cetakan ke-26)
Jumlah Halaman272

Buku ini ditulis untuk mengenang Sosaku Kobayashi, kepala sekolah Totto-chan di Tomoe Gakuen sekaligus visioner pendidikan di Jepang pada masa Perang Dunia II.

Sinopsis: Ibu Guru menganggap Totto-chan nakal, padahal gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Itulah sebabnya ia gemar berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung. Karena para guru sudah tak tahan lagi, akhirnya Totto-chan dikeluarkan dari sekolah.
Mama pun mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen. Totto-chan girang sekali, di sekolah itu para murid belajar di gerbong kereta yang dijadikan kelas. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan. Mengasyikkan sekali, kan?
Di Tomoe Gakuen, para murid juga boleh mengubah urutan pelajaran sesuai keinginan mereka. Ada yang memulai hari dengan pelajaran fisika, ada yang mendahulukan menggambar, ada yang ingin belajar bahasa dulu, pkoknya sesuka mereka. Karena sekolah itu begitu unik, Totto-chan pun merasa kerasan.
Walaupun belum menyadari, Totto-chan tidak hanya belajar fisika, berhitung, musik, bahasa, dan lain-lain di sana. Ia juga mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri.

***

Meskipun sudah banyak review tentang novel ini, namun kepolosan Totto-chan membuat saya juga ingin menuliskan sedikit riview tentang kisah masa kecil seorang anak pada tahun 1937 sebelum perang pasifik meluluhlantakkan Jepang. Menariknya, buku ini bukan sekadar novel, melainkan sebuah memoar yang ditulis berdasarkan kisah nyata penulis, dimana kita bisa belajar mengenai psikologi anak dari cerita-cerita masa kecilnya. Walaupun kita semua pernah mengalami masa kanak-kanak, namun seiring bertambahnya usia, ingatan itu sedikit demi sedikit akan memudar bahkan ada beberapa bagian yang tak meninggalkan bekas. Membaca buku ini, rasanya seperti sedang bernostalgia, kembali mengenang masa anak-anak yang dipenuhi dengan kepolosan, khayalan, rasa keingintahuan yang besar, hingga keinginan mencoba hal-hal baru, sebagaimana yang dialami oleh Totto-chan di Tomoe Gakuen.

Baca selebihnya »

[Review] Aku Tersentuh Cinta

wp-1579365344140.jpg
PenulisArif Rahman Lubis
Tahun TerbitApril, 2017
Jumlah halaman301
PenerbitTeladan Publishing

Sekilas, judulnya memang terkesan melankolis, tetapi kontennya boleh dibilang cenderung menggambarkan pribadi plegmatis karena sarat nasihat yang menenangkan. Pertama kali melihat buku dengan judul ini, kesan yang muncul tak jauh-jauh dari fenomena bawa-bawa perasaan, hingga muncul kewaspadaan akan terhanyut dalam derasnya arus kegalauan (pa’ansi). Tapi benar lho, rasanya malas aja kalau nanti isinya mendayu-dayu gituuu. Tetapi… don’t ever judge a book, not only by its cover, but also its title. Begitu membaca, isinya justru bisa menjadi penengah kebimbangan dalam hati dan sungguh solutif (setidaknya menurut saya). Jadi, setelah sekian lama ragu antara baca atau enggak, dan berkat pakasaan seorang teman, akhirnya saya putuskan untuk membaca dengan niat belajar. Bagaimanapun isinya, insyaa Allah mendatangkan manfaat.

Dalam buku ini, Arif Rahman Lubis mengajak pembaca untuk memahami hakikat cinta yang sesungguhnya. Betapa indah dan agungnya makna cinta yang mencakup segala bentuk perhatian, hingga bagaimana cinta dicintai oleh cinta itu sendiri. Namun, cinta itu juga rumit, sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim bahwa “Cinta, sebuah nama yang sulit dipahami, tetapi begitu kuat menggelayut di hati”. Saking rumitnya, banyak sekali orang-orang yang kemudian terjebak dan keliru memaknai rasa cinta yang bersarang di hatinya, hingga tak jarang menjerumuskan dalam ikatan yang bertentangan dengan syariat. Memang ironis, cenderung tragis.

Baca selebihnya »

[Review] Kembara Rindu – Dwilogi Pembangun Jiwa

“Kebahagiaan itu kalau kita bersama kebaikan dan orang-orang yang baik.”

Kembara Rindu
PenulisHabiburrahman El-Shirazy
Tahun TerbitSeptember, 2019
Halaman272
Dimensi13.5 × 20.5 cm
Berat250 g
PenerbitRepublika Penerbit

Setelah Diana pulas, keharuan Ridho meledak. Mata pemuda itu berkaca-kaca. Ia menyadari dirinya sedang ada di dalam kereta, duduk disamping putri bungsu Kyainya. Ia baru saja meninggalkan pesantren. Ia dalam perjalanan pulang. Inilah hidup, tidak ada yang tetap selamanya. Ia tidak mungkin terus tinggal dipesantren jadi santri sepanjang hayatnya. Matahari terus berputar pada garis edarnya. Bumi berputar pada porosnya. Siang dan malam datang pergi bergantian. Ia teringat nasehat Simbah Kyai Nawir dalam salah satu pengajiannya.

“Santri-santriku, dalam pengembaraan mengarungi kehidupan dunia ini jadilah kalian orang-orang yang penuh rindu. Orang-orang yang rindu pulang. Jadilah seperti orang mengembara dan sangat rindu untuk segera bertemu keluarganya. Orang yang didera rindu untuk segera pulang, itu berbeda dengan orang yang tidak merasa rindu, meskipun sama-sama bepergian. Orang yang didera rasa rindu, tidak akan membuang-buang waktunya dijalan, ia ingin cepat-cepat sampai rumahnya. Sebab, ia ingin bertemu dengan orang-orang yang dicintainya. Sebaliknya, orang yang tidak merasa rindu, mungkin dia mampir di satu tempat dan berlama-lama di situ, jadinya banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Di dunia ini kita seperti orang bepergian, orang yang megembara. Dunia ini bukan tujuan kita. Tujuan kita adalah Allah. Kita harus memiliki rasa rindu yang mendalam kepada Allah. Dan Allah akan membalas dengan kehangatan rindu dan ridha-Nya yang tiada bandingannya.”

Yang telah lama ditunggu, akhirnya datang. Lagi-lagi sebuah karya indah pembangun jiwa. Memang tak pernah diragukan buah pikirannya yang selalu menelurkan kisah-kisah cemerlang dalam rangkaian cerita sarat makna. Kali ini bertajuk Kembara Rindu, sebagai pengobat kerinduan pecinta tulisan-tulisannya.

Baca selebihnya »

[Review] Aku Memilih Pergi

wp-1567267355452.jpg

Judul Aku Memilih Pergi
Author Tereza Fahlevi
Tahun Terbit Desember, 2018
Halaman 146
ISBN 978-602-6358-71-4
Publisher Wahyu Qolbu

“Melepasmu adalah keputusan paling dewasa yang aku ambil, di mana aku butuh berpikir sekeras-kerasnya, butuh tenaga sebesar-besarnya, dan terpaksa harus sakit sesakit-sakitnya. Tapi jangan kau kira aku akan menangisi kepergianmu, tidak, aku tidak punya waktu untuk itu.

Kau bisa jadi prioritasku, tapi masih ada yang jauh lebih penting daripada sekadar mengutamakanmu. Kita sudah besar, hubungan yang sehat tidak seharusnya berjalan seperti itu. Saling pendam, saling tikam, dan saling diam. Aku benci disakiti, dan aku benci bila nanti aku yang harus menyakiti. Jadi akhiri saja, maaf bila aku harus mundur. Jangan menagih janjiku, karena itu hanya berlaku bila kita saling setia, bukan saat cintamu tak lagi ada. Maaf, aku memilih pergi.”

Sebuah perjalanan merelakan. Sebuah usaha melupakan. Sebuah perjuangan menemukan.

Buku ini mengingatkan kembali, bahwasannya cinta memang tidak selalu memiliki. Bahwa cinta seharusnya dibangun dengan keikhlasan hati, karena apa yang diharapkan tidak selalu berakhir dengan kebahagiaan, namun sangat mungkin berujung perpisahan. Ada yang terpaksa harus meninggalkan, ada yang bertekad untuk lari, dan ada yang memilih pergi.

Namun nyatanya, pergi tidak melulu tentang melarikan diri karena pergi bisa menjadi salah satu jalan untuk menyelamatkan hati. Pergi dapat dijadikan sebagai waktu untuk merenungi apakah dia pantas untuk diperjuangkan atau memang sudah seharusnya direlakan. Pergi tidak selalu salah. Pergi, bisa menjadi pilihan terbaik.Baca selebihnya »

[Review] You Are The Apple of My Eye

wp-1567267399973.jpg

Author Giddens Ko
Penerjemah  Stella Angelina dan Fei
Tahun Terbit (versi Indonesia) Februari 2014
Halaman 350
ISBN 978-602-7742-28-4
Publisher Penerbit Haru

“Mereka duduk depan belakang. Titik-titik biru mulai menodai bagian belakang baju seragam seorang anak laki-laki. Ketika menoleh, senyuman seorang gadis membuat anak laki-laki itu bermimpi selama delapan tahun dan tebelenggu seumur hidup.”

Pasti novel ini sangat tidak asing karena judulnya mirip dengan judul sebuah film. Yaa, memang dari novel karya Giddens Ko inilah kisah dalam film tersebut berasal. Film bergenre comedy romance yang rilis tahun 2011 dan cukup fenomenal pada waktu itu. Selain diangkat dari kisah nyata penulisnya sendiri, pasalnya ending cerita juga membuat para penonton gemas dan banyak juga yang patah hati. Bagaimana tidak? Sepanjang film penonton harap-harap cemas menyaksikan kisah antara Ke Jingteng dan Shen Jiayi, menunggu dengan sabar bagaimana akhir dari kisah dua remaja sekelas ini, tapi nyatanya berakhir dengan sangat mengejutkan. Unpredictable.

Sebenarnya saya tidak paham kenapa harus baca novel ini. Mungkin hanya untuk menjawab rasa penasaran beberapa tahun silam setelah filmnya terlebih dahulu saya tonton sebelum membaca novelnya. Sejak saat itu, muncul rasa penasaran, pengen tau gimana jalan cerita versi novel. Tapi ternyata novel ini sulit ditemukan setelah mencari di toko buku manapun. Dan akhirnya waktu pameran Buku Jabar Agustus lalu, saya tidak sengaja menemukannya di salah satu stand. Langsung weh ambil dari rak tanpa pikir panjang (salah satu jenis kekhilafan: nggak banyak mikir).

Menurut saya, novelnya tidak sevulgar film karena di dalam novel tidak ada satupun paragraf yang mendeskripsikan kebiasaan Ke Jingteng dan ayahnya di rumah (yang udah nonton film pasti tau deh). Tapi baik dalam film maupun novel, inti ceritanya memang sama. Namun, ternyata apa yang ada di dalam novel tidak sesederhana filmnya. Jika di dalam film mengisahkan kehidupan SMA antara Ke Jingteng dan Jiayi, namun pada novel ternyata kisah mereka dimulai sejak duduk di bangku SMP. Bukan hanya tentang Ke Jingteng, A He, dan sekelompok anak laki-laki yang menjadi pengagum abadi Shen Jiayi, tapi juga melibatkan satu tokoh lagi yang sepertinya tidak dimunculkan di film. Siapakah dia? Baca selebihnya »

[Review] Perempuan Teduh

Menemukan kembali fitrah dirimu

wp-1567267344511.jpg

Judul Perempuan Teduh
Author Harun Tsaqif
Tahun Terbit 1 Februari 2019
Cover dan Halaman Softcover x+238 hal. 14x20cm
ISBN 978-979-017-415-3
Publisher QultumMedia

Meneduhkan. Kesan itu sudah muncul sejak melihat sampulnya, dimana pribadi seorang perempuan dianalogikan sebagaimana pohon dengan rimbunnya daun hijau yang teduh, akar yang kuat, dan ranting serta batang yang kokoh. Kesan itu terus berlanjut begitu membaca halaman pengantarnya. Beberapa paragraf pembuka yang sederhana, namun menegaskan betapa mengagumkan dan besarnya peran seorang perempuan dalam suatu peradaban.

“Perempuan adalah pilar peradaban. Apabila pilar itu kokoh, maka kuatlah tempat yang ditinggalinya, kuatlah keluarganya, dan menjadi hebat generasi yang dilahirkannya.” (hlm. 4

Melalui tulisan-tulisan yang terangkum dalam prosa, Harun Tsaqif seperti ingin menyampaikan lembaran-lembaran surat sarat nasehat yang ditujukan kepada kaum perempuan demi mengembalikan fitrahnya, mengingat begitu banyak perempuan yang saat ini telah kehilangan jati diri sebagai sosok yang menyejukkan dengan segala keindahan yang Allah berikan.

Bukan dengan kecantikan paras, tidak dengan keelokan tubuh. Namun keteduhan dari sosok perempuan muncul karena keindahan akhlak dan kebaikan hatinya. Hati yang dipenuhi dengan kelembutan dan tak ada seorangpun yang bisa memahaminya selain perempuan itu sendiri. Hati yang dihiasi oleh rasa malu sebagai mahkotanya dan ketaatan sebagai perhiasannya.Baca selebihnya »

[Review] The Kite Runner

D1DoHw0V4AEUrvU

“For you, a thousand times over.” (Untukmu, keseribu kalinya) –Hassan kepada Amir.

Judul The Kite Runner
Author Khaled Hosseini
Tahun Terbit (New Version) 2018
Halaman 492
ISBN 978-602-9225-95-2
Publisher Qanita

Novel yang telah menyandang title “Worldwide Bestseller” ini terbit pada tahun 2003 di Amerika oleh seorang penulis kelahiran Afganistan, Khaled Hosseini. Novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2006, dan saat ini telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa di 70 negara.

Sedikit bercerita, sebenarnya The Kite Runner sudah pernah saya baca beberapa tahun yang lalu ketika masih duduk di bangku SMA, meminjam di perpustakaan. Namun di awal tahun 2019, novel ini diterbitkan kembali oleh salah satu penerbit di Indonesia bersamaan dengan diterbitkannya karya terbaru Hosseini yang berjudul Sea Prayer. Sejauh yang saya ingat, novel ini adalah novel terjemahan pertama yang saya baca. Sebagai seorang pembaca yang pada saat itu masih  belum terbiasa dengan bacaan alih bahasa, saya sedikit sulit memahami kalimat-kalimatnya. Perlu pengulangan pada beberapa bagian cerita sehingga memerlukan waktu kurang lebih seminggu untuk menyelesaikan novel setebal 618 halaman ini. Namun demikian, novel ini berhasil membuat saya jatuh cinta karena kisahnya yang bisa dibilang antimainstream. Jadi, sepertinya tidak berlebihan jika saya menyebutnya sebagai salah satu novel terbaik yang pernah saya baca.

Saat itu tampilan novel masih cover lama dengan gambar dua anak kecil –which are Hassan dan Amir, tokoh utama dalam novel- saling berangkulan dan salah satu diantaranya sedang memegang layang-layang putus. Tampilan cover itulah yang membuat saya merasa penasaran dengan isi ceritanya –tentunya selain membaca sinopsis yang sedikit memberi bocoran tentang kisah persahabatan. (Ah, kisah-kisah seperti ini memang tidak boleh dilewatkan!)Baca selebihnya »