Ekspektasi

Suatu ketika, sebuah peristiwa terjadi secara tak terduga. Seorang teman, sebuat saja fulanah, datang dan menceritakan sebuah perkara dengan harapan mendapatkan sepenggal dua penggal saran. Kalau sekadar mencari teman sebagai pendengar, oke lah saya berani maju duluan. Tapi kalau tujuannya minta saran/masukan, saya justru merasa bahwa dia sepertinya salah orang. Tapi yasudahlah, nanti bisa didiskusikan…

Dia datang dengan rentetan cerita sepanjang malam yang seolah tak ada habisnya. Ternyata, hatinya sedang merasa bimbang sebab kedatangan laki-laki yang beberapa waktu lalu menghubunginya via sebuah pesan di media sosial. Sambil memberikan tanggapan, dia memutuskan untuk mencari informasi mengenai laki-laki tersebut —yang baru sekadar tau tetapi belum dikenalnya dengan baik (intinya pernah ketemu, tapi nggak kenal). Namun semakin lama, semakin dia menyadari adanya ketertarikan terhadap si fulan, apalagi sejak pembicaraan mereka sudah mulai menjurus pada hal-hal yang berbau serius. Baru berbau ya, belum berwujud.

Baca selebihnya »

Sebait Puisi Dini Hari

Malam selalu menyimpan rahasianya sendiri. Mengendap-endap di balik mentari demi menunggu sunyi, agar tak perlu mengisahkan pada bumi tentang apa yang berdesak di lubuk hati. Ia lebih memilih ‘tuk cukupi diri dalam tenangnya kasih Ilahi, lewat sebait puisi dini hari yang dilantunkan tinggi-tinggi, melambung hingga ke ‘arasy

Penghujung

Sepertinya baru kemarin, saat kehadirannya membuat kita menautkan banyak sekali janji kepada diri sendiri. Hingga kita pun menyadari bahwa target yang ditulis telah berjajar rapi, berebut ingin segera dicapai. Tetapi, sampai detik menjelang ia pergi, sudah sejauh manakah kesungguhan diri untuk berusaha memenuhi?

Sampainya kita di penghujung bulan ini memang selalu tak terasa, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Namun, semoga bukan karena kita terbuai oleh perkara dunia, melainkan karena sibuk meningkatkan takwa. Sehingga, tidak terasa yang kita rasakan bukanlah perasaan yang sia-sia. Dan takwa yang menyelimuti hati kita pun nantinya bukanlah sisa-sisa…

Sekali lagi tarikan nafas, masanya akan benar-benar mentas…
Kini ia tengah berkemas karena esok ‘kan segera bergegas…
Padahal, rindu ini belum jua tuntas…

Tapi, bagaimana lagi? Ingin tidak ingin, kita akan kembali mengantarkannya pergi. Berat hati melambaikan jemari, sambil menyelipkan seutas harap agar nanti dipertemukan dengannya lagi…

30 Ramadhan 1441 H

Bukuku Sayang, Bukuku Malang

(kok rasanya geli sendiri baca judul tulisan ini)

Sejak hijrah ke Bandung pada tahun 2017, sepertinya kali ini adalah mudik pulang kampung terlama, terhitung sejak tanggal 7 Maret 2020. Sebenarnya tidak ada rencana untuk terlalu lama di rumah, mungkin hanya sekitar satu sampai dua minggu, setelah itu berangkat lagi ke Bandung untuk merampungkan beberapa tugas dan urusan yang belum selesai. Tapi qodarullah, belum ada satu minggu, sudah ada himbauan dari pemerintah daerah untuk mengurangi kegiatan di luar rumah, apalagi bepergian antarkota, mengingat semakin meluasnya penyebaran Covid-19. Sebagai masyarakat daerah yang tertib dan warga negara yang baik, saya pun memutuskan untuk menunda keberangkatan sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Dua bulan lebih menghabiskan waktu #dirumahaja, ternyata semakin lama semakin membosankan. Padahal sebelum-sebelumnya, setiap kali pulang juga terbiasa rebahan di rumah, nggak ke mana-mana. Tetapi sekarang, karena menyadari adanya larangan keluar rumah, tiba-tiba rebahan menjadi hal yang sangat menjenuhkan. Bawaannya pengen pergi ke mana-mana. Mungkin ini kali ya, definisi dari candaan orang-orang bahwa peraturan memang dibuat untuk dilanggar. 😅

Kenyataannya, terlalu lama di rumah membuat pikiran semakin penat, terlebih ketika saya menyadari bahwa stock buku bacaan mulai menipis, cenderung habis. Kemarin waktu pulang sengaja hanya membawa tiga buku, sedangkan yang lainnya ditinggal di Bandung sebagai cadangan bacaan di sana, apalagi rencananya memang ingin menghabiskan lebih banyak waktu di Bandung sebelum mudik lebaran. Tapi maasyaa Allah… Apa yang bisa kita lakukan selain berencana? 😞

Baca selebihnya »

Ternyata Blog juga ada Award-nya

liebster-award-2

Beberapa hari yang lalu, saya menjadi salah satu dari 11 nominee sebuah penghargaan blog bertajuk Liebster Award dari seorang blogger keren, yaitu Rissaid. Penghargaan ini memiliki peraturan untuk menulis 11 fakta mengenai blog beserta pemiliknya dan menjawab 11 pertanyaan yang diajukan oleh si nominator. Setelah sempat menuliskan tanggapan yang belum sempat dipublikasikan, malamnya saya kembali mendapatkan apresiasi serupa dari Rahma Frida disertai pertanyaan yang tentu saja berbeda dari Rissaid. Tetapi, karena dua hari ini ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi saya sempat menunda “tugas” yang diberikan kedua blogger keren ini.

Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih yang seagung-agungnya kepada Teh Arin (Rissaid) dan Mba Rahma atas apresiasi yang diberikan. Meskipun award ini bersifat bebas, tidak terikat, dan untuk bersenang-senang, saya tetap akan memberikan respon terhadap challenge dari Teh Arin dan Mba Rahma sebagai ucapan terima kasih (juga).

Baca selebihnya »

Sepertiga Perjalanan

Apa kabar shiyam? Bagaimana dengan qiyam? Sebaik apa tilawah? Sedalam apa tadabbur? Setulus apa dzikir… istighfar… sedekah?
Masih ada waktu untuk meningkatkan apa yang telah dilakukan. Masih ada kesempatan untuk mengawali apa yang belum dimulai. Perkara kebaikan, tak ada toleransi meski di tengah isolasi.

Sesaat, raga memang sedang tersekat, namun kalbu janganlah tersesat.
Semangat!

Seberapa Jauh Jarak yang Telah Kita Tempuh?

Banyak yang bilang, bahwa mengulang-ulang doa bagaikan mengayuh sepeda. Lingkar demi lingkar roda berputar, maka kita kian mendekat ke tempat tujuan. Meski terkadang lelah, namun nyatanya kita tak pernah menyerah. Entah sudah berapa kali doa itu terucap dengan segenap harap, kita pun pasti sudah tak ingat.

Sesekali, kita mungkin berhenti untuk sejenak menepi. Mengulang lagi keinginan, harap-harap cemas akankah sampai ke tempat tujuan. Tanpa sadar, satu tahun belakangan kita terus menyelipkan pinta yang sama, untuk dipertemukan dengan waktu-waktu mulia yang dirindukan mukmin di seluruh dunia. Entah di penghujung doa seusai shalat atau bahkan di sela pekerjaan yang padat, ketika menyadari bahwa harinya kian mendekat, tanpa sadar doa yang sama pun kembali terucap.

Kalaulah kita menengok lagi ke belakang, pasti kita pun akan terkejut melihat betapa jauh jarak yang telah ditempuh. Satu tahun, dengan doa yang sama, dengan pinta serupa. Meskipun pada kenyataannya kali ini sedikit berbeda dari waktu-waktu kemarin, meskipun malam-malam indahnya akan terasa lebih sunyi, namun bukan berarti hati kita ikut terisolasi. Justru inilah masa yang indah untuk membuktikan jika kita tak mudah terkekang oleh keadaan, ibadah kita akan terus berjalan -bahkan lebih mendalam. Insyaa Allah…

Seseorang pernah mengingatkan, bahwa sejak adzan maghrib berkumandang, sejak saat itulah segalanya tak lagi sama. Maka, jika ruku’ dan sujud kita masih sama; qiyam kita tak ada bedanya; shiyam dan shaum kita begitu-begitu saja; dzikir dan istighfar secukupnya; tilawah dan tadabbur sekadarnya, lalu bagaimana bisa doa agar kembali dipertemukan dengannya selalu mengudara? Padahal seandainya kita memang benar-benar sedang mengayuh sepeda, tak terbayang sudah seberapa panjang kayuhan itu melintang. Akan begitu lucu ketika gerbang yang kita tuju sudah terlihat, namun semangat kita justru tersendat.

Kita sendiri yang selalu meminta untuk dipertemukan dengan bulan penuh kerinduan, kita juga yang memohon agar disampaikan pada malam-malam penuh ampunan, jadi sudah semestinya kita pun mempertanggungjawabkan segala harapan yang telah dikabulkan. Melakukan kebaikan lillahita’ala, bukan karena yang lainnya. Namun jika kita justru tersandung oleh niat yang keliru, tidak malukah terhadap sebait doa penuh rindu yang sejak saat itu tak henti bertalu?